Minggu, 18 Oktober 2015

Nasibmu ustad

Dari wilayah Jakarta Selatan, Ustadz sudah bersiap jalan. Hari ini ia ada agenda mengajar bahasa arab di sebuah kampus ternama di bilangan Depok. Yang mengundang adalah anak-anak lembaga dakwah kampus. Materi sudah ia siapkan dengan matang. Dan ia sampaikan dengan sangat menyenangkan. Tiba waktunya pulang, panitia hanya mengajak salaman. Iya, hanya salaman. Tak ada bingkisan atau sekadar “uang bensin”. Ustadz berusaha untuk ikhlas.

Seseorang yang mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, dalam Islam, memang mempunyai hak memperoleh upah atas jasanya itu. Jadi seorang guru, musyrif, atau ustadz yang telah berjuang dan basah berkeringat di jalan Allah untuk mengajarkan ilmu-ilmu Islam, pada dasarnya mempunyai hak untuk mendapatkan upah atas keringatnya yang menetes, atas bensin yang teraus oleh kendaraan.

Bila tidak demikian, dari mana ia akan menghidupi keluarganya yang merupakan kewajibannya. Ada anak-anak dan istri yang harus dinafkahi. Sementara kalau mereka semua berhenti mengajarkan ilmu-ilmu Islam dan beralih profesi berdagang di pasar, maka siapa lagi yang akan mengajarkan agama ini? Siapa yang akan mempertahankan agama ini? Siapa yang akan mengajarkan bahasa arab ini? Oleh sebab itu, mereka berhak mendapatkan rupiah dan upah atas kerja mereka yang sangat berharga. Meski ‘hanya’ sekadar ‘uang bensin’. Alangkah keji yang ustadz macam seperti ini mendapat tudingan ‘penjual ilmu Allah’.

Di negara-negara Islam, profesi seperti ustaz bahkan imam atau muadzin di masjid itu ditanggung oleh negara. Negara memperoleh dana untuk itu dari Baitul Mal. Para ustadz tak serta merta langsung menerima ‘uang bensin’ dari pengundang atau orang yang diajar, sehingga tak terkesan menperdagangkan ilmu.

Bagaimana dengan Indonesia? Untuk yang berdiri di bawah kelembagaan tentu saja ada. Sisanya selain itu, silakan jawab sendiri.

Di perjalanan, Ustadz menatap bayangan anak-anak dan istrinya. Masih berpikir tentang kontrakan yang harus dibayar, tentang kebutuhan keseharian. Keuangannya makin terkatah-katah sejak sebuah perusahaan menyetopnya untuk mengajar lagi. Ya Allah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar